Hope And Hope
Karya: Miftahul Jannah
Sudah tiga tahun semenjak Yoora dipindahkan dari rumah sakit elite
Siloam ke rumah sakit yang mungkin bisa kita katakan termasuk bangunan
yang bobrok dan tak pantas lagi disebut sebagai tempat untuk merawat
orang.
Dokter muda yang
menghargai kehidupan orang. Sang jiwa yang diberikan pada Tuhan dan ia
telah berjanji saat Yoora Badria wisuda bahwa ia segenap hati akan
memberikan usaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa manusia, jika
itu memang takdir mereka.
Berspesialis GS atau general surgery dan
Yoora sering melakukan operasi umum. Dokter yang tak sempat mencari
cinta, bahkan mungkin selalu hidup di dalam ruang operasi. Ia tak bosan,
tetapi ia lelah menanti takdir. Yoora tak bisa berhenti dari
pekerjaannya sekarang, ia terlanjur berjanji kepada semua orang bahwa ia
akan hidup dimana cinta tak akan pernah datang untuknya.
Rumah sakit Abadi Umum
inilah ia tinggal, tempat Yoora merenung. Ibunya berada untuk alasan
menghidupi dan memberi makannya, kalau ia berhenti dari pekerjaannya.
Tetapi sungguh ia tak rela menghabisi waktu yang tak tentu arah. Tak
henti - henti belakangan ini Ibu memberi pertanyaan tidak masuk akal.
'Yo, kapan kamu mendapatkan pacar? Ini sudah mau habis tahun 2016 dan kamu sampai sekarang tak mendapatkan pedamping'
'Nak, apa gak bosan kamu sendiri terus? Sepupumu Nadila, akhir tahun ini ia sudah menikah. Kamu pacar pun belum dapat!'
Dua percakapan itulah
yang masih diingatnya. Tak itu saja masih banyak lagi sederetan kata -
kata yang diucapkan sang Ibu untuk merendahkan Yoora. Cukup sabar bahwa
Ibu—yang melahirkannya pun bisa mencemooh anaknya sendiri dan bagaimana
pemikiran orang lain? Wahh, Tak bisa dibayangkan.
“Dokter, ada pasien demam tinggi dan tiga menit lagi sampai.” ucap sang perawat laki - laki bernama Nando.
Tersadar dari apa yang
dikatakan Nando, Yoora pun bergegas pergi ke ruang UGD. Ya, karena rumah
sakit ini kekurangan Dokter, ia pun harus bertanggung jawab di ruangan
terkutuk itu.
Melangkahkan kaki
jenjangnya yang tadi berada diatas kursi beralih ke lantai marmer yang
dingin. Tak beralasan apapun Yoora lantas ingin mencuci mukanya agar tak
mengantuk. Lalu memakai sandal berbentuk kelinci yang akan ia bawa
melalui kerja kerasnya.
Membuka pintu kayu itu
secara perlahan, Yoora pun berjalan melewati pekerja yang ada disini,
tak henti - henti orang memanggilnya, bahkan ia dikenal dengan 'Fussy Yo' atau bisa diartikan Yo cerewet, sangat menjengkelkan bukan?
Melambaikan tangan pada suster Ohnia, Yoora pun menghampirinya dimeja resepsionis. “Dimana pasien demam tinggi, Sus?”
“Hm, disebelah sana
Dok,” Suster Oh menunjuk tempat tidur dimana terbaring anak lelaki. “Mau
kutemani, Dok?” sambung perempuan umurnya yang telah berkepala empat
itu.
Mengangguk setuju dengan
pertanyaan Suster Ohnia, Yoora pun berjalan menuju ke tempat pasien dan
diikuti oleh Suster Oh. “Dokter Yo, akan ada Dokter bayaran disini, dan
ia akan menjadi dokter di UGD juga.”
“Kapan ia akan mulai
bekerja disini?” memulai meriksa pasien, Yoora pun menatap sebentar pada
Suster Oh, dia tak menjawab pertanyaan Yoora. “Hei, suster.” Yoora pun
mengibaskan tangannya didepan wajah suster dan masih tak ada respon.
Merasa ada yang memanggil, Suster Ohnia pun menatap Yoora kaget. “Ehh, Dok maafkan aku.”
“Apa yang Membuat anda kemari?” tanya Yoora kepada wali pasien.
“Begini Dok, saya dan
anakku dari kemarin batuk parah. Kami telah memakan obat dan kami juga
belum pulih, tapi malah semakin parah.”
Uhuk
Uhuk
“Maaf Dokter” ujar sang wali pasien.
“Sejak kapan Anda dan anakmu terkena batuk?”
Laki - laki itu pun berbatuk tak tertahankan. “Sekitar dua hari atau tiga hari yang lalu”
“Baik saya akan memeriksa kalian dengan stetoskop dulu.” perempuan muda itu pun mengambil stetoskop yang ia kalungkan dileher.
Pertama memeriksakan
pada anak yang telah terlihat wajahnya lelah, karena terbatuk - batuk
dari kemarin. “Oke, tarik nafas dalam - dalam dan keluar kan secara
perlahan.”
“Suara di paru - parunya tidak terdengar baik. Saya akan mengambil scan pada paru - parunya.”
“Itu... Bukan demam?” tanya lelaki itu pada Yoora dengan terbatuk - batuk.
“Saya akan memeriksa
anda juga,” beralih mendekati wali pasein. “Bisa anda duduk ditempat
tidur dibelakang?” sambung Yoora dengan menunduk menghadap pasien itu.
“Ambil nafas dalam - dalam”
Mengikuti pergerakan apa yang dikatakan Dokter, lelaki itu pun menarik nafasnya dan terlihat sedang menahan dahak.
Yoora pun mengerutkan
dahinya, entah apa yang membuatnya bingung sekarang ini. “Apa kalian
baru pulang dari liburan dan pergi ke suatu tempat baru - baru ini?”
“Tidak, aku baru pulang dari perjalanan bisnis di luar negri selama satu bulan.”
Menyimak apa yang dikatakan oleh paseinnya, Dokter muda itu pun tak takut - takut lagi untuk bertanya. “Hm, dimana tempatnya?”
“Suriah”
Yoora pun mengedipkan
mata tak henti - henti, sekilas ia melihat kearah Suster Oh. Tidak -
tidak tak mungkin dengan penyakit itu.
“Ap-apakah?” ucap Suster oh tergagap. Waw! Suster Oh pun menyadari pemikiran Yoora.
Melirik dan mengitari ke
sekeliling UGD ini, Yoora pun melihat dua anak kecil tengah terbaring,
orangtua yang telah rentan tengah tertidur dan Ibu hamil yang sedang
merasa kesakitan. Tak itu saja masih banyak lagi pasien yang berada di
UGD sini. “Sus, bertemu denganku sebentar.”
Berkumpul dimeja
resepsionis dan disana ada beberapa suster penjaga, Yoora pun menyender
di kayu meja. Terlihat saat ini bahwa dia tak terlihat baik, dengan
kantung mata membesar dan berwarna coklat dan kulit putih pucatnya.
Selama empat hari belakangan ini ia selalu siap siaga dengan UGD, karena
ini akhir tahun ia harus tinggal diruangan serba bau obat. Tak
menyangka untuk tahun baru ini ia harus mengurus orang - orang yang
sakit dan tak ada libur sampai ini selesai, melelahkan.
“Dengarkan baik - baik,” tutur Yoora. “Mulai sekarang kita harus menutup UGD.”
Semua suster yang ada
disitu bertanya - tanya, tetapi tidak lewat dari mulut melainkan dari
kontak mata. “Ada pasien disini yang kuduga terkena MERS.” jawab Yoora
dengan lantang.
“Jauhkan pasien yang diduga dikarantina di ruang hybrid,” melihat kearah Nando yang sedang berjalan kearah mereka. “Dan kau Nando, kau harus menutup seluruh UGD.”
“Siap, Dok.”
“Kau Lisa siapkan penjaga di ruangan hybrid.” suruh Yoora dan menatap kearah seseorang datang melewati pintu UGD.
Semua orang pun
menyipitkan mata untuk benar - benar melihat lelaki tinggi berpakaian
jas dokter, suster yang ada didepan Yoora pun tak henti - henti memuja
sang lelaki itu. Bahkan ada yang berkata 'Apakah itu jodoh untukku,
karena aku telah lama menanti dan tuhan memberiku tepat diakhir tahun'
dan yang parahnya lagi 'Pangeran tampan ditahun baru'
“Yakk! Fokus kerja
sekarang” itu suara Suster Ohnia. Perempuan itu sangat disegani disini.
Mungkin karena dia senior dan telah lama mengapdi ditempat bobrok ini.
Sempat terpotong rapat
dadakan mereka karena lelaki yang tiba - tiba masuk, Yoora pun
melanjutkannya. “Suster Oh, kau siapkan masker, gaun medis dan sarung
tangan sekali pakai.”
Mengangguk mengerti
Suster Oh berjalan mengambil catatan. “Semakin kita bergerak cepat.
Percayalah penyakit ini tak akan cepat menyebar, fighting.”
“Aku akan menelpon kepala dokter.” ucap Yoora kepada yang lain.
“Aku telah memanggilnya,
dan mereka telah menelpon pusat pengalihan dan pencegahan penyakit dan
telah meminta puskesmas mengirim jas hazmat.” suara parau itu terlihat
tegas dan jelas.
Yoora melihat keasal
suara, ia melihat laki - laki tinggi berkulit hitam manis dengan rahang
yang mengeras, dan mata hitam elang. Lelaki itu melambaikan tangannya
pada Yoora.
“Hai, Yo.” sapa pria itu pada Yoora.
Semua suster yang disekitarnya terkejut. Lelaki tampan yang akan menjadi patner kerja Dokter Yoora saling mengenal.
Yoora merasa bingung, mereka saling menyapa. Hell! Siapa Yoora, dia tak terkenal dikalangan rumah sakit manapun. Mengingat masa - masa silam, Yoora tau bahwa lelaki ini.
“Azhar, kau?”
“Iya, kau bisa lihat sekarang, Kak.” kekeh Azhar.
“Yaa. Aku bukan Kakakmu. Jadi kau tak perlu memanggilku lagi dengan embel - embel 'kak'. Mengerti.”
Senyum - senyum sendiri,
Yoora tak menyangka bahwa dokter bayaran itu adalah Azhar—lelaki yang
dulu sangat ia cintai. Tetapi ia tahu bahwa Azhar tak mencari wanita
yang bekerja, katanya tak akan bisa merawat dia. Well, aku bisa apa.
“Yo, apa kita tak mengembalikan pasien yang boleh dipulangkan.” tanya Azhar.
“Iya aku setuju.” timpal Yoora. Tapi untuk saat ini ia benar - benar bingung. Apa yang ia lakukan sekarang.
Beramai - ramai staf
rumah sakit Abadi Umum mengintip jendela yang terbuka, bahkan ada yang
menelpon Yoora untuk menanyakan bagaimana keadaan di dalam sana.
Penyakit MERS dikenal sebagai penyakit yang cepat menular, dan disini
hanya ada enam staf medis yang akan merawat semua pasien disana. Ini
tahun baru yang tak terduga, berminggu - minggu ia memikirkan akan
liburan dimana untuk akhir tahun baru ini, karena untuk tahun ini ia
belum sama sekali mengambil cuti tahunan.
“Dok, aku telah
mengambil sampel darah dari pasien yang kita duga penyakit MERS.” ucap
Suster Lisa dengan membawa botol kecil berbentuk tabung yang berisi
cairan merah pekat.
“Baik, serahkan itu
padaku,” senyum Azhar pada suster tadi. Dengan wajah merah merona,
Suster Lisa langsung memberikan botol kecil tadi. “Yo, kau urus UGD
sebentar aku akan memberikan ini.” lanjut Azhar dengan mengacak - acak
rambut Yoora.
💙💙💙
Dentuman alunan musik Stay With Me oleh Chanyeol (EXO) dan Punch menggema nyaring dalam ruangan bernuansa serba cat putih. Entah siapa yang request lagu itu, tapi ia sangat berterima kasih telah mengingatkan bahwa Azhar tak mungkin tetap stay
bersamanya disini, ditempat yang tak layak. Sungguh ia tak merasa
sedih, tetapi ia ingin meminta keadilan pada sang bumi. Yoora terlahir
sendiri dan tak akan bisa bersama orang yang dicintainya.
“Yo, kau menangis?”
Ohh, jelas
Yoora menangis karena kau Azhar. Tidak bukan karena dia, tapi karena
kebodohan Yoora yang tak bisa berhenti berharap. Ia terlalu tolol untuk
mengharapkan sesuatu yang jauh untuk dicapai. Kau bukan yang
diinginkannya Yo, dirimu terlalu rendah bukan.
Menghapus buliran -
buliran yang masih disekitar pipinya, menarik nafas sebentar. “Ahh,
tidak. Aku sedang memikirkan apa nasib pasien - pasien disini.”
Mengerti apa yang
dikatakan Yoora. Azhar pun mendekatkan wajahnya di telinga Yoora. “Aku
merindukanmu,” bisik Azhar dengan suara serak. “Kau masih mencintaiku
kan?”
Terbelak kaget, mulut Yoora pun membentuk huruf O. Sungguh ia ingin tertawa apa menangis. “Sudahlah tak usah bercanda.”
Azhar pun berjalan mengikuti Yoora. “Yo aku serius.”
Mengabaikan perkataan Azhar, Yoora tetap berjalan menuju suster Ohnia. “Kapan sampelnya akan datang?”
“Kata mereka masih dalam perjalanan kesini.”
Mengedikkan bahu, Yoora
pun mengganti masker yang sejak kemarin dipakainya. Ia masih teringat
dengan perkataan Azhar, lelaki itu merindukannya.
Karena dari kemarin ia tak bisa keluar untuk ke ruangannya sebelum hasil sampel itu, Yoora pun beralih ke toilet UGD untuk membersihkan wajahnya. Melihat ke arah kaca. “Yo, kau itu bodoh menolak pertanyaannya. Kenapa kau tak bilang saja kalau kau tuk mencintainya. Sungguh menjengkelkan!” geram Yoora.
Karena dari kemarin ia tak bisa keluar untuk ke ruangannya sebelum hasil sampel itu, Yoora pun beralih ke toilet UGD untuk membersihkan wajahnya. Melihat ke arah kaca. “Yo, kau itu bodoh menolak pertanyaannya. Kenapa kau tak bilang saja kalau kau tuk mencintainya. Sungguh menjengkelkan!” geram Yoora.
Ting
Ting
Itu bunyi dari handphone Yoora, dengan tertera nama Ibu dilayar telepon genggamnya. Menggeser tanda hijau dan panggilannya telah tersambung. “Hallo.”
“Sayang, kau sehat?” tanya wanita paruh baya diseberang sana.
Berdeham pelan untuk
mengiyakan pertanyaan Ibunya. Ia tahu Ibunya akan menanyakan lagi apa
kau telah dapat kekasih. Yoora meringis, ia akan menjawab apa lagi untuk
ini semua.
“Ibu ku tutup ya, aku ada pasien.” tutur Yoora dan langsung mematikan daya dari teleponnya.
“Yo, ini hasilnya. Kau
bukalah pertama kali,” ucap Azhar dan memberikan amplop. “Hati - hati
membukanya jangan sampai robek.” protes lelaki sinting ini.
“Bawel kamu.”
mengucapkan berkali - kali kalimat berkah, Yoora gugup setengah mati
untuk membukanya. Ayolah, ia juga takut bahwa jika benar pasiennya
terkena penyakit itu, ia akan menghabiskan malam tahun baru di ruang UGD
ini.
Seketika jantungnya tak keruan dan hasilnya. “Az, negatif.” teriak Yoora dengan langsung reflek memeluk tubuh Azhar.
Merasa menjadi tempat
kebahagiaan, Azhar pun balik memeluk agar bisa merasakan kehangatan.
Menarik sudut dimulutnya dan membentuk sebuah senyuman. “Aku
mencintaimu, Yo.” itu pernyataan. Benar itu keluar dari mulutnya Azhar.
Mengedipkan mata Yoora
langsung mengerutkan dahinya dan menatap nanar mata Azhar. Sungguh tak
terlihat kebohongan dari matanya. Apa ia sungguh - sungguh? “Azhar...”
“Iya Yo, kau mau menjadi
kekasihku?” Dengan beraninya Azhar mengucapkan kata - kata yang dulu
sangat diimpikan oleh Yoora. Ia tak bermimpi kan, sungguh jika ini mimpi
sadarkan lah wanita ini.
“Aku bermimpi kan?”
“Ahh tidak - tidak aku sedang berkhayal sepertinya.”
“Yo kau tak bermimpi,
aku benar - benar,” tangannya beralih menggenggam jari - jari Yoora.
“Jadi bagaimana Yo, kau mau menjadi kekasihku?” ulangnya lagi.
Yoora pun tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Azhar. Berdehem agar Azhar tahu bahwa ia menerimanya.
“Yo sekarang kita? Aku benar - benar - benar mencintaimu.”
“Sekarang kita
informasikan ini dulu pada staf - staf, oke.” menarik lengan kekar
Azhar, Yoora pun mengajaknya keluar dari toilet. Dia tak menyangka bahwa
ia menerima hati di toilet.
“Suster Oh, hasilnya negatif.” girang Yoora tak tertahankan.
“Benarkah Yo? Aku sangat senang, jika bukan berkat kau dan Dokter Azhar. Entah apa yang akan kami lakukan kemarin.”
“Dan berita baiknya juga
sus, Aku dan Yoora telah menjadi sepasang kekasih. Ditahun baru ini,
Yoora tak akan menyendiri lagi. Aku janji Yo, selamanya kamu akan
menjadi ratu dihatiku.” ucap Azhar kepada Suster Oh, ia pun beralih
melihat wajah Yoora yang sekarang telah dipenuhi semburat merah.
Manisnya.
Dan Yoora tak akan takut
lagi ditahun ini memang tahun yang memberinya warna - warna indah. Ia
tak akan takut lagi akan pertanyaan yang menuntut dari sang Ibu dan ia
akan betah di rumah sakit ini kalau disampingnya tetap ada Azhar, lelaki
yang telah meluluhkan jiwa dan hati ini.
Dulu aku takut, waktu selalu menertawakan aku. Detik tak bisa membantuku dan menit tidak bisa mengubah takdir, hingga jam pun tak bisa berbuat apa - apa. Tetapi aku sadar, saat yang tepat adalah hari dimana selalu berjalan dan menjelaskan padaku menunggu lah akan kubawakan sebuah takdir dan cinta untukmu. Jika katamu itu melelahkan, lebih melelahkan yang mana menunggu atau mengakhiri hidup yang selalu kau jalankan dengan sia - sia. Pada saatnya aku memilih untuk menunggu dan hari benar bahwa ia menepatkan janjinya. Hingga saatnya cintaku datang dengan sendirinya pada akhir tahun ini.
-Selesai-